<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000000364</controlfield>
    <controlfield tag="005">20200508200916</controlfield>
    <controlfield tag="008">200508|||||||||   |   |||   |||| ||eng||</controlfield>
    <datafield tag="020" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">9780521839181</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="035" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="0">010-0520000364</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="041" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">eng</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">343.093</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">343.093/AZW/p</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">Rully Chairul Azwar</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">Politik komunikasi partai golkar di tiga era: dari partai hegemonik ke partai berorientasi "pasar"</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">Jakarta</subfield>
      <subfield code="b">Cambridge University Press</subfield>
      <subfield code="c">2009</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">xiii, 206p. ; 23 cm.</subfield>
      <subfield code="c">23 cm.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="504" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">p.185 - 203</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">Buku ini merupakan hasil pelacakan terhadap model politik komunikasi Partai Golkar di tiga era kepemimpinan yang berbeda, yaitu era Harmoko (1993-1998), era Akbar Tanjung (1998-2004) dan era Jusuf Kalla (2004-2009). Golkar di era Harmoko dikategorikan sebagai partai hegemonik, karena tidak otonom dari kekuasaan, tetapi justru menyatu dengan kekuasaan. Selain itu, struktur politiknya tidak kompetitif yang ditandai dengan tidak adanya rotasi kepemimpinan dan belum berpandangan diperlukannya pasar. Sementara itu, di era Akbar, posisi Golkar berada di luar kekuasaan sehingga lebih bebas memainkan peran politiknya. Politik komunikasi Partai Golkar era Akbar juga tidak menentang pasar, kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran model politik komunikasi Golkar bergerak menuju MOP (Market Oriented Party). Di era kepemimpinan Jusuf Kalla, relasi Golkar dan kekuasaan mengalami perubahan. Hal ini merupakan konsekuensi politik dari posisi Kalla sebagai wakil presiden, maka otomatis Golkar berada dalam kekuasaan meskipun tidak dominan. Model politik komunikasi Golkar berdasarkan MOP (market oriented party) dimodifikasi dengan model MOP ala Golkar yang menerapkan seluruh tahapan MOP dengan diversifikasi pada tingkatannya, yaitu MOP tingkat nasional dan MOP tingkat lokal. Dengan demikian, semua kekurangan akibat posisi dilematis Golkar dalam kekuasaan di tingkat nasional dapat direduksi di tingkat lokal.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">27036/MKRI-P/XII-2022</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
