<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">00925/MKRI-P/I-2005</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000006283</controlfield>
    <controlfield tag="005">20221101014424</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0520006283</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="008">221101################|##########|#ind##</controlfield>
    <datafield tag="020" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">979 - 8981 - 33 - 2</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="041" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">eng</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">342</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">342 MUH k</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Muhammad Asrun</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">Krisis Peradilan: Mahkamah Agung di Bawah Soeharto /</subfield>
      <subfield code="c">A. Muhammad Asrun</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">London :</subfield>
      <subfield code="b">Routledge,</subfield>
      <subfield code="c">1996</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">xxv, 348 hal ; 21 cm ;</subfield>
      <subfield code="c">21 cm</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="500" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Indeks : Index</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="504" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Bibliography</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Hal yang menarik dari hasil studi penulis buku ini adalah mencuatnya aspek subjektivitas aktor yang mencoba berdiri di luar "sistem" mapan yang telah dibangun oleh kekuasaan politik otoliter. Artinya, sebagai salah satu kesimpulan, kalaupun toh ada cerita menarik dari kinerja Mahkamah Agung di republik ini ketika berada di bawah kekuasaan Soeharto dengan rezim Orde Barunya, hal itu bukan disebabkan terutama oleh kekuasaan yang diberikan oleh sistem atau struktur melainkan lebih karena "kreativitas" dan keberanian improvisasi para subjek atau aktor. Tentu saja, peran aktor dalam kehidupan sosial politik sangat penting. Tetapi, semata-mata mempercayakan independensi hukum dan keadilan di atas pundak aktor tentu juga suatu kenaifan, karena tak ada jaminan sama sekali bahwa hal itu akan senantiasa terwujud. Selain itu, aktor yang adalah manusia itu tentu saja tidak selalu sukses untuk "berdiri megah" di luar sistem. Ia selalu terancam hegemoni melalui habitus atau kebiasaan dan praksis sosial yang diinternalisasikan secara individual. Karena itu, perlu ada sistem yang jelas dan tegas, tetapi tetap tidak kaku dalam arti tetap memberi ruang bagi kreativitas dan otentisitas moral bagi para aktor.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1=" " ind2="4">
      <subfield code="a">Sistem dan Struktur Kekuasaan Negara</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">00925/MKRI-P/I-2005</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
