<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000007781</controlfield>
    <controlfield tag="005">20200508204116</controlfield>
    <controlfield tag="008">200508|||||||||   |   |||   |||| ||ind||</controlfield>
    <datafield tag="020" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">2199</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="035" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="0">010-0520007781</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="041" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">ind</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">344.01</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">344.01/SET/p</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">Wijayanto Setiawan</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">Pengadilan Perburuhan di Indonesia (Disertasi)</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">Surabaya</subfield>
      <subfield code="b">Universitas Airlangga</subfield>
      <subfield code="c">2006</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">xxiii, 259 hlm.; 29 cm</subfield>
      <subfield code="c">29 cm</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1=" " ind2=" ">
      <subfield code="a">Pada penelitian ini diketemukan perselisihan perburuhan pada dasarnya adalah perselisihan didala hubungan kerja yang beranjak dari hukum perjanjian. Karakteristik perselisihan perburuhan hanya 2 macam tidak bisa kurang atau lebih, yakni perselisihan hak yan menitikberatkan aspek hukum dan perselisihan kepentingan yang menitikberatkan pada kebijaksanakan . kewenangan p4 dalam bidang perburuhan ada 2 macam, berdasarkan UU 22/1957 sebagai badan/lembaga penyelesaian perselisihan perburuhan produknya putusan dan berdasarkan UU 12/1964 sebagai badan/lembaga pemberian izin/penolakan phk, produknya keputusan (KTUN).&#13;
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pertama, penanganan perselisihan perburuhan oleh PT. TUN berdasarka ketentuan Pasal 48 jo Pasal 51 ayat 3 UU 5/1986 terhadap putusan P4P dalam penyelesaian perselisihan perburuhan antara majikan/pengusaha dan buruh/pekrja tidak sesuai dengan hakekat Peradilan Tata Usaha Negara. Kedua, penyelesaian perselisihan perburuhan oleh P4 berdasarkan UU 22/1957 dikonsepkan melalui dua cara, yakni arbitrase sukarela dan arbitrase wajib, setelah lahirnya UU 5/1986 sebelum berlakunya UU 2/2004 penyelesaian perselisihan perburuhan berubah konsep menjad KTUN, berhubung putusan P4 berdasarkan UU 22/1957 dikategorikan sebagai KTUN, dan setelah berlakunya UU 2/2004 penyelesaian perselisihan perburuhan konsep melalui dua sistem secara litegasi dan nonlitigasi.</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
